Monday, October 25, 2010

Saat-saat Menjelang Rasulullah Muhammad SAW Wafat

Dengan suara yang lemah dan terbata-bata, pagi itu Muhammad saw, rasul terakhir, memberikan nasehat kepada sahabat-sahabatnya:

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti ia mencintai aku. Dan bersamaku kelak, orang-orang yang mencintaiku, akan masuk ke dalam surga bersama-sama.”

Sesudah mengakhiri khutbahnya, dengan tatapan yang teduh dan penuh kasih, Muhammad menatap wajah sahabatnya satu per satu. Bertahun-tahun Rasulullah melakukan kebiasaan mengabsen sahabatnya di pagi hari. Tetapi tatapan di pagi hari itu, lain dari biasanya.

Ada perasaan yang begitu berat mengganjal di hatinya. Ada perasaan tidak ingin hidup terpisahkan dari mereka. Siapa yang sanggup, berpisah dengan orang-orang terkasih, yang telah menemani dalam suka dan duka, selama lebih dari 22 tahun? Ia seperti ingin terus berada di tengah-tengah para sahabatnya, yang telah rela mengorbankan apa saja yang menjadi milik mereka, demi tegaknya risalah yang diemban rasul-Nya.

Suasana senyap. Para sahabat merasa, waktunya telah tiba. Sesudah haji wada, yang juga menyiratkan berakhirnya risalah kenabian Muhammad, para sahabat masih terus menunggu, kapan tiba waktunya. Dan kini mereka merasa, mungkin inilah saatnya.

Abu Bakar mamandang Rasulullah. Matanya menatap nanar dan berkaca-kaca. Umar yang gagah dan pemberani, sesak dadanya, berusaha menahan tangis sekuat daya. Utsman terpaku dalam diam. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Semua yang hadir tidak mampu megeluarkan kata-kata. Manusia tercinta itu sudah berada di ujung yang paling akhir dari perjalanannya. Usai sudah Muhammad menunaikan tugasnya.

Tatkala Rasulullah berjalan limbung turun dari mimbar, Ali dan Fadhal dengan sigap segera menangkapnya. Rasulullah segera dipapah masuk ke dalam rumahnya, yang hanya berjarak beberapa meter dari mimbarnya, di Masjid Nabawi yang mulia. Para sahabat semakin yakin, saatnya telah tiba.

Mereka terus berkumpul, di sekitar rumah Rasulullah, menunggu detik-detik berlalu. Matahari sudah meninggi, tetapi pintu rumah Nabi masih saja tertutup. Manusia agung yang mampu hidup lebih mewah dari segala raja, memilih tidur beralaskan tikar, terbaring lemah di dalamnya, bersama keluarganya yang mulia. Keringat yang mengucur dari keningnya membasahi pelepah kurma yang menjadi bantalnya.

Dari arah luar, tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berseru, "Assalamu'alaikum!" Fatimah, putri Nabi, keluar menemuinya. "Boleh saya masuk?” tanya laki-laki itu. Fatimah tidak memberinya izin, karena ayahandanya sedang terbaring lemah. “Maafkanlah, ayahandaku sedang demam,” kata Fatimah sambil membalikkan badan dan segera menutup kembali pintunya.

Fatimah kembali menemani ayahnya. Rasulullah sudah membuka matanya saat Fatimah datang menghampiri. Ia bertanya pada putrinya, “Siapakah tadi yang datang wahai putriku?” Fatimah menjawab, “Aku tidak tahu, baru sekali ini aku melihatnya." Lalu Rasulullah menatap wajah putrinya dalam-dalam, layaknya seorang ayah yang hendak pergi meninggalkan anaknya untuk jangka waktu yang cukup lama.

“Ketahuilah wahai putriku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan kita di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Mendengar itu, meledaklah tangis Fatimah, yang selama ini ditahannya.

Saat malaikat maut datang menghampiri, Rasulullah bertanya, mengapa Jibril tidka ikut bersamanya. Jibril sedang bersiap di atas langit untuk menyambut datangnya kekasih Allah, pamungkas para nabi dan Rasul, penghulu dunia ini. Lalu dipanggilah Jibril turun ke bumi mendekat kepada Rasulullah.

Dengan suaranya yang lirih Rasulullah bertanya, "Wahai Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Jibril menjawab, "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti kedatangan ruhmu. Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu."

Jawaban itu tidak memuaskan Rasulullah. Di wajahnya masih terlukis kecemasan. “Apakah engkau tidak suka mendengar kabar ini, wahai kekasih Allah?” Jibril bertanya dengan heran. Nabi menukas, "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku sepeninggalku!"

“Engkau tidak perlu khawatir, wahai Rasul Allah. Pernah Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” ujar Jibril menghibur.

Waktu semakin memburu. Malaikat maut didesak waktu. Ia harus segera menunaikan tugasnya. Apabila ajal telah tiba, tidak ada yang bisa menahan barang sedetik, tidak juga ada yang mampu mengulurnya, demikian janji Allah kepada seluruh manusia. Perlahan-lahan Israil menarik ruh Rasulullah dari jasadnya yang semakin melemah. Rasulullah bersimbah keringat di sekujur tubuhnya. "Aduhai Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini."

Rasulullah mengaduh perlahan. Suaranya lirih. Mata Fatimah Az-Zahra terpejam. Ali tertunduk dalam diam di sampingnya. Malaikat pengantar wahyu tak kuasa melihat penderitaan kekasih Allah, dibuangnya mukanya jauh-jauh.

"Apakah engkau jijik melihatku, hingga kau palingkan wajahmu dariku?" tanya Nabi kepada Jibril. "Siapa yang mampu melihat penderitaan kekasih Allah direngut nyawanya?" ujar Jibril.

Tak kuasa menahan sakit, Rasulullah memekik. "Ya Allah, betapa sakitnya maut ini. Timpakan semua siksa maut ini kepadaku. Jangan kau berikan kepada ummatku." Sekujur tubuh Rasulullah, dari kaki hingga dada, sudah mulai terasa dingin. Di penghujung ajalnya, ketika nafas tinggal satu-satu meninggalkan rongga dadanya, bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Ia masih ingin mengatakan sesuatu. Menantu Rasulullah yang berada di sampingnya segera mendekatkan telinganya, mendengar dengan sangat seksama. "Uushiikum bis-shalah, wa maa malakat aimanukum." Itulah kalimatnya yang keluar. "Peliharalah shalat, dan santunilah budak-budak di antaramu."

Di luar rumah, suara tangis para sahabat mulai terdengar bersahutan. Di sisa terakhir tenaganya yang tertinggal, Rasulullah masih berupaya mengucapkan sesuatu. Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai membiru. "Ummatii, ummatii, ummatiii..." "Umatku, umatku, umatku..."

Nyawapun meregang, lepas dari jasad Rasulullah. Tangispun meledak. Semua sahabat merasa telah kehilangan manusia yang paling mereka cintai, manusia yang memiliki sebaik-baik akhlaq, yang sejak muda bergelar Al-Amin, Yang Terpercaya.

***
Muhammad Rasulullah adalah manusia yang dicintai dan dirindukan banyak orang, sudah barang tentu orang Islam, di seluruh dunia, sejak dulu hingga kini. Seperti dilukiskan Taufik Ismail dalam syairnya yang dinyanyikan Bimbo:

Rindu kami padamu ya rasul
rindu tiada terperi
berabad jarak darimu ya rasul
serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
bagai cahaya suarga
dapatkah kami membalas cintamu
secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
rindu tiada terperi
berabad jarak darimu ya rasul
serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
bagai cahaya suarga
dapatkah kami membalas cintamu
secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
rindu tiada terperi
berabad jarak darimu ya rasul
serasa dikau di sini


sumber:http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5629097



Yaa bgitulah agan2 skalian saat-saat menjelang Nabi Muhammad SAW
meninggal dunia...Seorang pmimpin yg selalu ingat kpd umat, hingga akhir hayat....

Wednesday, October 13, 2010

Sholat Sunnah Rawatib

Shalat Sunnah Rawatib sepintas nampak seperti hal yang lumrah. Namun banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat sunnah ini kecuali ketika beliau dalam perjalanan. Kalaupun tertinggal karena lupa, sakit atau tertidur, beliau mengqadha’nya. Dari sini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kedudukan shalat sunnah rawatib ini disamping shalat-shalat fardlu. Adapun Keistimewaan shalat sunnah rawatib adalah merupakan penambal kekurangan dan kesalahan seseorang ketika melaksanakan shalat fardlu. Karena manusia tidak terlepas dari kesalahan, maka ia membutuhkan sesuatu yang dapat menutupi kesalahannya tersebut.

Dalam pembahasan yang lalu telah kita ketahui banyak sekali keutamaan-keutamaan shalat sunnah. Untuk kesempatan kali ini kita akan mengulas sedikit tentang keutamaan-keutamaan shalat sunnah rawatib yang tentunya masih dikutib dari buku “Himpunan dan Tata Cara Shalat Sunnah” karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani yang diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan.

Dari Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha-, Istri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Setiap hamba muslim yang shalat sunnah setiap harinya duabelas rakaat, selain shalat wajib, pasti Allah bangunkan untuknya rumah di dalam surga, atau dibangunkan untuknya satu rumah di dalam surga.” (Kemudian) Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha- berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (HR. Muslim, no. 728).

Secara terperinci shalat-shalat sunnah rawatib tersebut adalah:

a. 2 rakaat sebelum Shubuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

b. 2 rakaat sebelum Zhuhur, dan bisa juga 4 rakaat.

c. 2 rakaat setelah Zhuhur

d. 4 rakaat sebelum Ashar

e. 2 rakaat setelah Jum’at.

f. 2 rakaat setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

g. 2 rakaat setelah Isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan shalat-shalat sunnah rawatib antara lain:

1. Hadits Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha-, “Aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudah Zhuhur, akan Allah haramkan dirinya dari Neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (VI/326))

2. Hadits Ibnu Umar -Radhiyallahu ‘anhuma-, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang shalat sunnah sebelum Ashar empat rakaat.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/117).

3. Diriwayatkan dari ‘Aisyah -Radhiyallahu ‘anha- dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda:

“Dua rakaat sunnah Fajar (Shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab: Dianjurkanya shalat dua rakaat sebelum Shubuh, no. 725).

FAIDAH SHALAT SUNNAH RAWATIB

shalat sunnah Rawatib ini didefinisikan dengan shalat yang terus dilakukan secara kontinyu mendampingi shalat fardhu. Demikian Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memberikan definisinya, sehingga berkaitan dengan faidah shalat sunnah Rawatib ini, beliau memberikan penjelasan: “Faidah Rawatib ini, ialah menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu”.[19]

Sedangkan Syaikh ‘Abdullah Al-Basam mengatakan dalam Ta’udhihul Ahkam (II/383-384) bahwa shalat sunnah Rawatib memiliki manfaat yang agung dan keuntungan yang besar. Yaitu berupa tambahan kebaikan, menghapus kejelekan, meninggikan derajat, menutupi kekurangan dalam shalat fardhu. Sehingga Syaikh al-Basam mengingatkan, menjadi keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan menjaga kesinambungannya.


SUMBER : http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/

Monday, October 11, 2010

Bapak, Saya Ingin Menikah

Saudaraku, pada saat saya menulis tulisan ini saya memang belum menikah namun saya begitu antusias untuk menyambut momen tersebut datang pada kehidupan saya. Meskipun saat ini usia saya masih 22 tahun dan belum memiliki pekerjaan (lulus kuliah aja belum, hehehe...), namun keinginan saya untuk membina suatu ikatan sakral berbentuk pernikahan sangatlah tinggi. Ada beberapa hal yang memotivasi saya untuk segera melepas masa lajang saya. Pertama, saya mengetahui betul bahwa menikah merupakan suatu sunnah Rosul Muhammad SAW. Dalam hadits beliau bersabda bahwa nikah adalah sunnahku, apabila ada orang yang tidak menikah maka bukan termasuk golonganku. Sampai sebegitu pentingkah arti sebuah pernikahan? Jawabannya adalah ya. Karena dengan menikah, kita tidak hanya akan terhindar dari dosa-dosa yang mungkin kita lakukan apabila kita tidak menikah, tapi juga dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab baik pada diri sendiri maupun pada istri dan anak-anaknya kelak.
Kedua, dorongan dari seseorang yaitu kakek saya sendiri. Beliau berpesan kepada saya, menikahlah sebelum usiamu lebih dari 25 tahun, yang lebih mencengangkan adalah jika saya berani menikah dalam usia kurang dari 25 tahun beliau akan semakin bangga punya cucu yang berani seperti saya (hehehe..., narsis). Sebenarnya apa yang dikatakan oleh beliau adalah benar adanya. Ketika kita menikah pada rentang usia 20-25 tahun, maka kualitas organ reproduksi kita masih dalam tahap bagus-bagusnya. Jadi hal tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas keturunan yang dihasilkan pula. Para ilmuwan barat sudah melakukan riset mengenai pengaruh antara usia pernikahan dan kualitas bayi yang dilahirkan dan hasilnya benar bahwa ada pengaruh signifikan antara usia pernikahan dengan kualitas bayi, baik itu dari segi kesehatan maupun kecerdasan otaknya.
Dua hal tersebut menjadi motivasi kuat dalam benak saya untuk sesegara mungkin melaksanakannya. Semoga dengan usaha dan doa yang kuat, saya bisa melaksanakan sunnah Rosul tersebut dalam waktu 2 tahun kedepan, syukur-syukur kurang. Karena saya sudah ngebet.. bet.. beet...

Bapaaaak, Saya Ingin Menikah..!!!!

Sunday, October 10, 2010

Indonesia Berduka

Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan-pemberitaan baik itu di televisi, surat kabar, maupun internet yang berisi tentang kondisi kritis yang dialami oleh negeri kita tercinta Indonesia. Tentu kita semua masih ingat kejadian memilukan di Wasior, pada hari Senin 5 Oktober 2010 pukul 08.30 WIT terjadi banjir bandang nan dahsyat yang berakibat lebih dari 100 nyawa hilang dengan cuma-cuma. Banjir bandang yang melanda daerah tersebut menjadikan kota tersebut seakan menjadi kota mati. Bagaimana tidak, Wasior yang awalnya berpenduduk sekitar 20.000 jiwa kini hanya menyisakan beberapa kepala keluarga saja dan itupun masih sangat mungkin mereka untuk meninggalkan kota tersebut karena kondisi yang sudah sangat tidak memungkinkan.
Kita semua patut berkaca, apakah kita sudah berbuat baik pada alam kita? kenapa alam menjadi begitu murka, padahal sejatinya alam diciptakan oleh Allah SWT sebagai sarana kita manusia agar dapat menjaga dan memanfaatkannya dengan bijak agar tercipta ekosistem yang seimbang dan selaras. Tak cukup hanya itu saja, selang beberapa hari dunia olahraga kita khususnya sepakbola seakan tersentak dengan gelontoran gol-gol indah yang menghantam gawang yang dikawal oleh Markus Haris Maulana.
Ya, kita sebagai bangsa besar seakan diajari cara bermain bola yang baik dan benar. Meskipun pada awalnya Indonesia sempat unggul dengan gol yang diciptakan oleh Boaz Salossa pada menit 16, ternyata Luis Suarez cs berhasil membalas dan bahkan membalikkan keadaan dengan tujuh gol. Banyak pihak yang merasa kecewa dengan hasil tersebut, namun tidak sedikit pula yang merasa wajar-wajar saja. Sudah sepatutnya kita harus belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
Siapakah yang harus bertanggung jawab dengan kondisi Indonesia pada saat ini? Apakah pemerintah saja atau malah tidak ada yang harus bertanggung jawab? Pemerintah sebagai ujung tombak, memang harus segera berbenah diri. Namun, kita sebagai masyarakat dan generasi muda juga harus lebih bekerja keras agar kedepannya Indonesia tak lagi berduka.

Friday, October 1, 2010

KISAH BERKAH DI BALIK MEMBACA BISMILLAH

Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."

Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.